"Kini Kami Merasa Setara"
Jun 08, 2026
Kunjungan kembali ke rumah tangga penerima manfaat stimulan pembangunan jamban pada peride tahun lalu di Dusun Loloan, Desa Loloan, Kabupaten Lombok Utara, memperlihatkan perubahan bermakna dalam kehidupan sebuah keluarga penerima stimulan jamban. Di samping bangunan jamban sederhana, ibu Jinirip tampak duduk santai bersama suami dan anak bujangnya di sebuah balai-balai bambu.
Pasca pembangunan jamban, keluarga Bu Jinirip melakukan berbagai upaya perbaikan secara swadaya agar fasilitas tersebut semakin layak digunakan. Jamban yang sebelumnya tanpa atap dan hanya ditutup kain sarung kini telah beratapkan anyaman daun kelapa yang tersusun rapi. Untuk meningkatkan privasi, pintu kain diganti dengan pintu fiber bekas yang diperoleh dari sisa renovasi rumah tetangga. Perubahan sederhana ini memberikan rasa aman dan nyaman, terutama bagi Bu Jinirip yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Perubahan paling signifikan dirasakan pada aspek psikologis dan sosial. Bu Jinirip mengungkapkan bahwa sejak memiliki jamban, ia merasa keluarganya kini “setara dengan tetangga lainnya”. Sebelumnya, rasa rendah diri dan malu kerap muncul karena keluarga harus buang air besar di kebun. Bahkan, ia merasakan bahwa menumpang makan terasa lebih ringan dibanding harus menumpang buang air besar. Sejak jamban tersedia, seluruh anggota keluarga tidak lagi melakukan BABS, dan rasa malu tersebut perlahan berubah menjadi rasa percaya diri.
Cerita Bu Jinirip menunjukkan bahwa akses sanitasi yang inklusif memberikan dampak lebih luas dari sekadar perubahan perilaku. Bagi keluarga dengan anggota penyandang disabilitas, jamban yang layak menjadi bagian dari pemenuhan hak dasar, pengurangan stigma, dan penguatan martabat. Ke depan, keluarga ini bercita-cita untuk terus memperbaiki jamban dengan menaikkan dinding dan mengganti pintu agar lebih nyaman digunakan. Harapan Bu Jinirip sederhana, agar kepedulian dan uluran tangan seperti ini tetap ada, sehingga keluarga-keluarga dengan keterbatasan, khususnya penyandang disabilitas, tidak lagi tertinggal dalam akses sanitasi yang layak dan bermartabat.